Izinkan Aku Menyapamu
By:Nanang Ardianto
Published on 2018-07-01 by Nanang Ardianto


Seperti malam-malam biasa disudut kamar kecil asrama ini, selalu berjejal bersama dengan tumpukan resah yang berserakan dimana-mana. Pikiranku tetap berkeliaran memperhatikanmu yang bahkan tak kutahu dimana lagi? Lagi-lagi buntu jejak kaki menyelinap diantara sela ubun-ubun, sehingga porak-poranda sudah logika dan perasaan itu. Entah bagaimana bisa, sesuatu yang seharusnya tak perlu kucemaskan menjadi prioritas pada memori otak secara konsisten berdebat dengan maksud di dalam hati. Sudah kutanyakan pada angan-angan, jawabnya hanyalah pertentangan keadaan dan kenyataan akan beriringan dengan segala kemauan yang wujudnya berubah menjadi serpihan ambigu. Aku tahu, bahwa kau adalah bagian kecil dari kenyataan, namun akulah bagian terbesar dari keadaan yang tidak pasti itu sendiri. Sepertinya, melihatmu dari ketiadaan merupakan cara tersulit menghindari mata dan rasa ini dari kumpulan dilema yang mengandung makna diam namun melawan. Sesungguhnya hening selalu hadir menyimpan tanda tanya, apakah waktu siap mengumpulkan tekadku untuk sekadar berucap perlahan-lahan? Kemudian, hari-hari ini aku ingin memendam sedalam-dalamnya rasa cinta itu agar tumbuh di dalam keikhlasan saja. Membiarkanmu dicela oleh rasa nyaman akan lebih baik daripada mempersilahkan segala kekuranganku selalu masuk meracuni kamus kecil dunia mewahmu yang berjarak-jarak jauh dari tiap kubu diriku dan dirimu. Baiklah, sementara ini logikaku masih berjanji untuk ragu mempercayaimu. Sekali lagi, aku menyadari keadaanku yang seadanya ini. Sampai kini pun, aku masih terjebak pada kegelisahan seorang mahasiswa tingkat akhir mengenai masa depannya kelak. Akupun cuma berlatarbelakang biasa-biasa saja, tak mengantongi tumpukan materi apalagi ketampanan rupawi. Seringkali, aku memaknai segala keberuntunganmu “gadis manis lirikan hati”, sebagai sumber motivasi maha besar yang diturunkan illahi mengenai penciptaan dan kehidupan telah teruntuk bagi siapa saja yang Tuhan kehendaki. Cukup, aku menganggap bahwa belum tentu apapun yang tak kupunyai sekarang, seiring waktu akan terus menerus meneriakkan “semangat” padaku. Semoga cita-citaku masih tetap sama, yakni mengusahakan apapun yang kini kau cela sebelah mata sebagai jerih payah yang mendorongku menjadi lebih bergairah lagi. Bukan untuk mencelamu di lain hari, hanya untuk memaksamu tersenyum dengan segala usaha kecil yang juga belum tentu menghasilkan apapun selain sedikit menarik rona bahagia di wajahmu. Aku ingin menahan egomu sehingga tanganku perlahan memegang pipi dan kelopak matamu. Lantas apa yang kau lihat ialah perjuanganku menjadi apa, bukan hanya siapa diriku kini, sehingga menjadi nanti. Tapi, itu semua hanyalah opsi yang takkan mengikat dirimu erat-erat selain hanya kutipan-kutipan tidak jelas yang kuungkapkan dalam diam, kelam, dan masa silam. Serta isi buku ini. Semakin malam, aku berputar-putar diantara alam bawah pikiran yang didalamnya dibumbui revisi-revisi skripsi dan beragam tanggungjawab organisasi. Sehingga, genap sekali isi dalam ruang imajinasi membersamai susah sedih dan hingar bingar sesekali. Bahkan, bagaimana aku sadar mengenai sosokmu yang mulai memudar digerus hari-hari. Bersama sisa-sisa semester di kampus negeri ini, aku menemukanmu telah berkeliaran di dalam lubuk hati seorang lelaki yang tak semestinya kurestui. Sungguh, aku masih memantaskan diri hingga batas waktu yang sebelumnya tak pernah kusepakati bersama ambisi. Suatu hari, kau boleh terharu melihatku yang dulu tak pernah dirindukan menjadi sosok yang tetap sederhana mempersilahkan raut wajahmu merekah dalam kebahagiaan. Aku berupaya memanggilmu dengan teguran terbaik. Sampai jumpa di persimpangan jalan wahai kekasih masa depan. Izinkan aku tetap menyapamu ... Judul : Izinkan Aku Menyapamu Penulis : Nanang Ardianto Jenis Buku : Antologi Puisi Halaman : 130 hlm Ukuran : A5 (14 cm x 21 cm) Buku ini berisi sejumlah 57 puisi terbaik (disertai fotografi). Terbagi menjadi 2 bagian, yakni Romansa dan Kritik Sosial. Salam Literasi, yuk apresiasi ! *Penulis merupakan mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya *Telah dicetak ke berbagai daerah di Indonesia (Surabaya, Sidoarjo, Karawang, Medan, Depok, Bandung, Sidoarjo, Nganjuk, Malang, dll)
This Book was ranked at 4 by Google Books for keyword Puisi.
Book ID of Izinkan Aku Menyapamu's Books is 4LBlDwAAQBAJ, Book which was written byNanang Ardiantohave ETAG "irRYXdKD128"
Book which was published by Nanang Ardianto since 2018-07-01 have ISBNs, ISBN 13 Code is and ISBN 10 Code is
Reading Mode in Text Status is false and Reading Mode in Image Status is false
Book which have "130 Pages" is Printed at BOOK under Category
This Book was rated by Raters and have average rate at ""
This eBook Maturity (Adult Book) status is NOT_MATURE
Book was written in id
eBook Version Availability Status at PDF is trueand in ePub is false
Book Preview

